Uncategorized

Kemampuan Menikah

yang-Harus-Dipersiapkan-Sebelum-MenikahTilawah dan Tadabbur Quran pekan ini sampailah pada Surat An-Nur. Surat favorit bagi para bujang.

“Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah MEMAMPUKAN mereka dengan karunia-Nya.” — QS Surat An-Nur ayat 33

Oh men, bukan mencari nafkah sebanyak-banyaknya yang disebut siap menikah. Bukan pula uda punya mobil dan rumah mentereng yang menjadi patokannya. Tapi kemampuan untuk menikah adalah pemberian karunia ALLAH SWT. Itulah mengapa kemampuan yang atas izin ALLAH itu seharusnya diminta. Banyak juga teman-teman yang masih belum punya pekerjaan tetap, masih kuliah, bahkan lebih muda-muda usianya, sudah memantapkan langkah untuk mengerjakan sunnah nabi, menikah.

Terkadang kita berpikir, jika memang masalah jodoh, siapa, kapan, dimana, bagaimana keadaan saat berumah tangga nanti telah ditetapkan oleh Allah, maka  ya sudahlah, tunggu saja nanti. Jika waktunya tiba ya tiba. Akibatnya kita pun tidak meminta pada ALLAH. Dan walhasil kita cenderung abai dari berdoa pada ALLAH. .

And, barusan tadi pagi, liat di ceramah ustadz Yusuf Mansur, mendapat penjelasan lanjutan QS An Nur tafsir ayat 35-40. Let’s take a look, di ayat-ayat itu dijelaskan siapa-siapa aja yang mendapat cahaya nur Illahi dan tidak mendapat cahaya nur Illahi.. Apa hubungannya masalah nikah dengan cahaya nur Illahi?…

Ustadz YM mengibaratkan kita di dunia ini berada di dalam sebuah kamar. Maka orang yang tidak mendapat cahaya nur Illahi ibarat orang yang berada di kamar yang gelap. yang mereka butuhkan adalah cahaya. Anggaplah di dalam ruangan tersebut sama-sama terdapat orang. Orang yang sama-sama membutuhkan jodoh. Namun karena tidak mendapat cahaya, mereka tidak saling tahu keberadaan satu sama lain.  Padahal mudah bagi ALLAH SWT untuk mempertemukan dan menjodohkan mereka satu sama lain, memberi rejeki pada mereka, membebaskan mereka dari ujian maupun  hutang-hutangnya.

Oke kita lihat, siapa aja mereka yang mendapat nur Illahi tersebut:

1. Di ayat 36: (mereka yang) Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, 

2. Di Ayat 37: laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah,

3. Di ayat 37 lagi: dan (dari) mendirikan sembahyang,

4. dan masi di ayat 37: dan (dari) membayarkan zakat.

5. Dan di ayat 37 lagi: Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.

Kita sepertinya masih melakukan hal sebaliknya dari ayat itu. Penulis khususnya. Kita masih malas mengerjakan hal-hal di atas. Tidak merasa takut mengerjakan maksiat. Padahal nanti di akhirat semua akan dipertanggung jawabkan dan akan ALLAH balas semua perbuatan itu.

Apa motivasi mereka orang-orang yang mendapat nur cahaya Illahi tersebut:

di ayat 38: (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. 

Lalu siapa saja yang tidak akan mendapat cahaya Nur Illahi tersebut:

Di ayat 39: Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya

dan lihat bagaimana keadaan mereka yang tidak mendapatkan cahaya itu:

Di ayat 40: Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.

Naudzubillah min dzalik.. semoga kita terhindar dari tidak mendapat cahaya nur Illahi tersebut..

Maka kemampuan menikah itu harusnya diminta.. se-tajir, sekeren dan sesukses apapun kita, jika Allah belum memberikan kemampuan untuk menikah, maka tidak akan menikah. Sebaliknya bila Allah telah memberikan kita kemampuan menikah, sedikit apapun hartayang dipunyai, berapapun umur kita, bila Allah menghendaki menikah, maka menikah.  Kun fa ya kuun.

Prinsip Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus jadikan pegangan sebagai bentuk lurusnya tauhid kita:

Saat memilih jodoh, tanya ke Allah dulu. Jangan cari ke orang dulu

Saat menentukan hari H pernikahan, lapor ke Allah lagi, jangan malah cari pawang hujan

Saat mempertahankan rumah tanggapun, lapor ke Allah terus, minta diberikan petunjuk agar tetap istiqomah di Jalan-Nya, jangan malah melakukan segala cara termasuk yang haram.

13-08-2013

Penulis yang mencari cahaya nur Illahi tersebut

Advertisements

2 thoughts on “Kemampuan Menikah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s