Uncategorized

Kesalahan Kecil

mistake

Selama berada di tanah air, saya manfaatkan untuk mencari data untuk tugas akhir saya. Meskipun jurusan yang saya ambil adalah manajemen informasi, topik penelitian saya tentang pertanian. Karena metode yang saya gunakan bersifat kualitatif, saya lebih banyak berdiskusi dengan beberapa responden. Mendengarkan jatuh bangun mereka dalam membangun agrobisnis mereka adalah kesenangan tersendiri bagi saya. Saya bisa belajar dari beberapa nasihat mereka di bidang yang digelutinya masing-masing.

Dua hari yang lalu, Siang itu, selepas berdiskusi dengan pengusaha kopi luwak di salah satu cafe di salah satu mall di surabaya, saya menuju parkiran untuk mengambil sepeda motor saya. Di jarak selempar pandangan, seorang tukang parkir beranjak dari kursi nya, menuju warung kopi yang tak jauh dari tempat duduknya.

Sebuah motor yang dikemudikan oleh seorang bapak dengan anak perempuannya yang d bonceng di depan perut gembulnya melesat dari tempat parkir menuju keluar. Mengacuhkan keberadaan loket karcis parkir karena tukang parkir absen dari tempatnya. Masih di warung kopi.

Menyadari ada motor melesat keluar, tukang parkir yang baru menyelesaikan urusannya di warung kopi berteriak-teriak memanggil pengemudi dari kejauhan. Mungkin curiga, bahwa motor yang dikemudikan bapak itu, bukan motor miliknya. Atau biasa kita sebut “maling”.

Diatas motor, sesaat setelah sepeda motor saya menyala, telingaku menangkap suara keras, disusul rintihan mengaduh yang menyayat. Setelah Menyerahkan karcis parkir kepada tukang parkir yang berdiri celingukan menghadap keluar dengan raut muka tampak cemas. Kutarik tuas gas pelan pelan menuju ke arah suara.

Di sudut pertigaan jalan keluar. Sebuah mobil Fortuner yang melanggar marka jalan, sepeda motor yang tergeletak di tanah, seorang bapak bapak yang terduduk di aspal, seorang anak TK yang sedang menangis minta pulang. Bapak pengendara motor mengarahkan telunjuknya ke arah kakinya. Pengendara fortuner turun. Rupanya seorang supir yang berpakaian pekerja proyek.

Dengan logat maduranya, bapak pengendara motor masih menunjuk jempol kakinya yang,……„,masyaAllah. Putus!
“Cepat ditutup, putus ini kaki saya”. Supir fortuner, pupilnya melebar, panik, cemas. Mengambil sapu tangan seadanya dan mengikatkannya pada jempol yang putus.

Aku masih tidak percaya, dengan semua kejadian yang tertangkap di retinaku dan terrekam di otak pada saat itu. Kuparkirkan sepeda motor tak jauh dari tempat peristiwa. Kulihat serpihan jempol dengan lemak kekuningan yang segar yang telah terlepas dari badan (Disini saya bersyukur tidak kesampaian jadi dokter). Orang didepan saya meraba raba serpihan anggota badan itu dengan ujung sepatunya. Saya hanya bisa membantu meminggirkan sepeda motor yang remnya telah menancap. Menuntunnya harus dimiringkan dengan sudut tertentu.

Anak TK yang masih menangis minta pulang, belasan manusia yang bergerombol hanya bisa menonton dengan prihatin, bapak pincang yang minta di antar ke rumah sakit, supir yang pupilnya masih melebar dan berjanji melakukan apa saja yang diperlukan.

Ah, semua kejadian itu hanya disebabkan oleh kesalahan kecil. Kesalahan yang dianggap bisa dilakukan ketika ada kesempatan. Mobil melawan arus, tukang parkir yang beranjak dari tempatnya, dan pengemudi motor yang menoleh kebelakang. Awalnya, semua terlihat sepele.

Kesalahan, melanggar aturan yang telah ditetapkan. Sebagai muslim, bila kita melanggar aturan yang Allah tetapkan dalam kehidupan ini, disebut dengan maksiat. Bila melanggar aturan yang ditetapkan negara, seperti rambu, manajemen perusahaan saja bisa berdampak kecelakaan, buang sampah sembarangan bisa jadi banjir. Semua kesalahan kecil memang nampak sepele di mata kita. Padahal aturan dibuat demi kebaikan orang yang menaatinya pula. Bisa dibayangkan bila di kehidupan ini tidak ada aturan.

Bila melanggar peraturan yang dibuat manusia saja sudah sedemikian akibatnya, apalagi aturan yang sudah ditetapkan oleh menciptakan kita, yang maha tahu kadar kebutuhan setiap makhluk yang diciptakanNya. Bahkan sebagian dari manusia ada yang jelas jelas menuduh bahwa aturan Tuhan tidak layak diterapkan. Merasa lebih hebat dari Allah SWT. Naudzubillah min dzaliik. Padahal bila satu saja jempol kaki mereka lepas, siapa yang menyembuhkannya selain Allah? Diri mereka sendiri? Tentu tidak.

Nasihat untuk saya pribadi
Surabaya, 26 september 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s