Uncategorized

Merasa Ditinggal Allah

Dalam sebuah talkshow, Pepeng pernah mengibaratkan bahwa hubungan manusia dengan Allah itu seperti komputer-komputer yang terhubung kepada mega-server yang terhubung melalui sinyal nirkabel. Selama komputer tersambung ke mega-server, maka komputer akan tetap hidup. Menerima informasi dari mega server.

“Sayangnya manusia lebih sibuk mencari sinyal HP yang hilang ketimbang mencari sinyal Allah yang hilang” begitu kata Pepeng..

Sahabat pernahkah kita merasakan ditinggal oleh Allah?.. Eits, sebelum itu, pernahkah kita merasa begitu dekat dengan Allah?. Mau melakukan ini tanya ke Allah, kepengen sesuatu minta sama Allah. Lalu, apa-apa yang kita minta ke Allah dikabulkan dengan cara yang sangat menakjubkan. Pernahkah? Lalu bagaimana kondisi kita saat ini? Sedang dekat dengan Allah atau sedang merasa ditinggal Allah?

Bila pernah merasakan ditinggal Allah, maka ketahuilah sob.. Nabi kita yang mulia pun, Rasulullah SAW pernah merasa ditinggal oleh Allah selama 6 bulan lamanya. Tidak ada wahyu, tidak ada mimpi yang memberi petunjuk apapun. Pada saat itupun Nabi Muhammad terlihat sering menengadahkan wajah ke langit seakan menunggu wahyu turun.

Peristiwa inilah yang menjadi asbabun nuzul surat Adh Dhuha.

Demi waktu sepenggalah naik, dan demi malam apabila telah sunyi dan gelap, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. Adh Dhuha 1-3..

Dengan turunnya wahyu tersebut, Allah sedang menghibur hati Rasulullah SAW. Lalu apa refleksi bagi kita yang merasa ditinggal Allah,? Tiga ayat terakhirlah yang mesti kita perhatikan.

Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan. Adh Dhuha 9-11.

Seakan-akan Allah mengatakan bahwa, “Hei lihatlah dibawahmu.! Ada yang lebih sengsara daripada keadaanmu saat ini, maka kunjungilah orang-orang yang berada dibawahmu dan bersyukurlah atas apa yang telah Aku Karuniakan padamu”

Masya Allah, semoga renungan ini dapat menjadi refleksi bagi penulisnya pribadi..

NB: diilhami oleh ceramah seorang Ustadz berhati lembut…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s