Uncategorized

Mensyukuri Hidup – 26 April 2015

Ceritanya, akhir-akhir ini saya sedang disibukkan dengan aktivitas yang hadir bertubi-tubi. Kesibukan ini bukan kesibukan untuk kepentingan diri sendiri. Namun semua kesibukan yang saya jalani akhir-akhir ini adalah untuk membantu orang lain. Baru selesai satu urusan, urusan yang lain hinggap. Hampir tidak ada waktu bagi saya untuk mengambil jeda.

Mulai dari membantu teman membuat short-video untuk profil dirinya, membantu menengahi seorang ibu dan anaknya yang sedang bertengkar, menjemput teman dari luar negeri yang akan melakukan tes wawancara kerja, melayat rekan kerja di kediamannya di jawa timur, meminjamkan kamar kos untuk teman kos yang ortunya datang, mengantarkan teman yang sakit ke klinik, dan yang terakhir membantu pendirian cabang sebuah lembaga belajar mengaji. Yang semua kejadian itu jika dijabarkan maka saya tidak dapat mengira bahwa semua itu adalah sebuah alur cerita cantik yang telah di skenario sedemikian rupa oleh sang pembuat skenario. Pelajaran syukur nomor satu, “Hidup yang harus disyukuri adalah ketika hidup kita dapat menjadi jalan kebaikan orang lain.”

Misalnya, baru saja kemarin, karena saya terbiasa sabtu-minggu menginap di rumah tante saya di daerah ITB, teman kosku  berniat meminjam kamar kosku untuk menginapkan orang tuanya yang hadir menjenguknya dari Padang. Saya pun berkemas, menyiapkan segala gear ku untuk menginap di rumah tante saya. Namun ketika di depan pintu rumah tante, saya tidak mendapati seseorangpun ada di rumah. Aah, mereka sedang liburan ke pantai!. Terbesit di pikiranku untuk menginap ke tempat temanku, Azzam. Amboi! diapun ternyata sedang menjalani seminar di Jakarta. Di tengah kebingunganku untuk bermalam, saya pun melaksanakan sholat isya, karena kebetulan waktu itu sedang adzan isya.  Setelah sholat tiba-tiba saya teringat untuk salah satu teman dosen yang ngontrak di daerah Tubagus Ismail. Alhamdulillah, setelah saya konfirmasi via telpon ternyata dia sedang ada di tempat dan nitip dibawakan makan malam.  Setibanya di kontrakan, mata saya menangkap tubuhnya yang lemas di lantai, mengenakan jaket dengan tudung, memakai kaos kaki dan sarung tangan. Rupanya dia sedang demam.  melihat kejadian tersebut, saya pergi ke swalayan terdekat membelikan Paracetamol sebagai obat penurun panas. Esok paginya, saya antarkan teman saya ke poliklinik terdekat. Dokter bilang, dia cukup kelelahan sehingga daya tahan tubuhnya menurun. Setelah meminum obat dan istirahat, alhamdulillah, tubuhnya berangsur sembuh. Pagi itu pula, saya harus menjemput perwakilan dari lembaga mengaji di stasiun kota Bandung. Rencananya mereka akan membuat cabang di Bandung. Kebetulannya, mereka akan bertemu dengan BAZNAS yang berlokasi di Tubagus Ismail. Setelah meminta izin agar mereka dapat di inapkan ke kontrakan teman saya yang sedang sakit tadi, ternyata teman saya menerimanya dengan senang hati. Dari runtutan peristiwa ini, sungguh saya termenung, bahwa skenario dari Allah sungguh indah. Satu peristiwa ke peristiwa lain seakan sambung menyambung seperti puzzle yang nanti akan dirangkai menjadi sebuah gambar. Pelajaran syukur nomor dua, “Allah adalah sang maha pembuat skenario terindah. Bila kita merasa tidak suka terhadap kehendaknya, bisa jadi itu baru sepotong peristiwa, tunggulah gambar utuhnya. Yang pasti,  Dia tidak pernah sekalipun punya rencana buruk kepada kita.”

Mundur lagi ke dua pekan sebelumnya, seorang ibu dari temanku menelponku karena sedang konflik dengan anaknya, sehingga anaknya (teman saya) tidak mau menyapa ibunya. Saya hanya bisa mendengarkan cerita sang ibu yang sabar dan menguatkan ibu tersebut. Di saat itu, saya mencari-cari momen untuk berbicara empat mata dengan teman saya, namun sulit sekali, dia menghindar. Di tengah situasi menjadi penengah tersebut, saya berkonsultasi dengan ibu saya. Ibu saya pun mendengarkan cerita tersebut dengan sabar dan memberikan beberapa masukan.

Mundur lagi ke satu pekan sebelumnya, berita duka hadir dari rekan dosen saya yang ayahnya baru saja meninggal di Malang. Atasan saya meminta saya untuk menjadi perwakilan prodi untuk menyampaikan bela sungkawa.

“Berangkat besok yah mas Faishal, cari tiket pesawat aja ke Malangnya”,

“Baik bu, saya coba carikan tiketnya”

Aah, tiket pesawat sangat susah dibook ketika penerbangan sudah H-1. Habis, habis dan habis. Akhirnya saya harus berangkat dari Cengkareng menuju Surabaya pukul 4 pagi. Kembali ke Bandungnya, saya harus PP sehari, tidak menginap karena di kantor akan mengadakan acara Nasional dan saya kebagian menjadi panitia publikasi. Maka saya pesan tiket kembalinya siang itu juga. Karena terbiasa menggunakan maskapai Ai*Asi* saya pesan penerbangan pulang pada hari yang sama pukul 12.55. Setelah membayar tiket, saya baru sadarr.. Aah. Saya salah beli tiket pulang!. Saya salah estimasi! perjalanan dari Surabaya ke Malang biasa ditempuh 2.5 jam. Saya memberi kabar kepada ibu bahwa saya akan pulang sehari, tapi saya tidak yakin bisa bertemu dengan bapak ibu saya ketika di surabaya. Namun setelah konsultasi ke ibu saya, ibu saya dengan senang hati yang akan mengantarkan ke Malang. “Biar cepet nyampe, biar keburu pesawatnya Le..” begitu kata ibu saya.

Minggu jam 23.00 : berangkat dari kos

Senin jam 00.00 : berangkat ke Cengkareng dengan menggunakan bus.

Senin jam 03.00 : tiba di Cengkareng , bobok ganteng di kursi bandara.

Senin jam 04.00 : Boarding, Berangkat dari Cengkareng

Senin jam 05.30 : tiba di Juanda, Surabaya.

Senin jam 06.00 : Setelah sholat subuh di Bandara, ibu saya dengan bapak saya sudah standby menjemput saya.

Senin jam 8.40 : Bapak saya bisa ngebut, kami sampai di Malang, Setelah menyampaikan bela sungkawa dan berikutnya,.

Senin jam 09.10 : Kami pulang lagi ke surabaya (haha, cuma setengah jam di Malang)

Senin jam 11.35 : (Meski awalnya pesimis bisa mengejar pesawat)Alhamdulillah sudah kembali lagi di bandara Juanda..

Senin jam 14.00 : Sudah tiba lagi di bandara Husein Sastra Negara Bandung.

Ajaib kan? saya mencatat ini adalah perjalanan terjauh dan tercepat yang pernah saya alami. dari sini saya termenung, ibu saya selalu mendukung saya, bahkan di saat saya telah salah mengambil keputusan, ibu dan bapak saya bela-belain mengantar saya. Pelajaran syukur nomer tiga, “Syukurilah Ibumu. Selagi ibu masih ada, ibu adalah “dukun” terbaik. Maka mintalah support dari Ibumu.”

Di akhir cerita ini, izinkan saya mengutip quote dari Kakak saya, Kakak Mario Tehug..

“Jadilah sebab bagi kebahagiaan orang lain, dan kebahagiaan anda menjadi urusan Tuhan langsung”

Sekian “tulisan ini dibuat dalam rangka tantangan ‘Blessed Days Blessed Life’”

Bandung 27 April 2015

Advertisements

10 thoughts on “Mensyukuri Hidup – 26 April 2015

  1. Ga tau knpa pilihanku tiba2 jtuh ke tulisan ini.
    Overall, tlisannya bagus kang..

    Aku blajar banyak dri tlisan mu. Quote yg aku suka dan itu mngkin jga sbg pengingat utk ku adalah: “Syukurilah Ibumu. Selagi ibu masih ada, ibu adalah “dukun” terbaik. Maka mintalah support dari Ibumu.”

    Dan quote ttg syukur lainnya. Aku suka, terima kasih pljarannya…

    Tapiiii…
    Kta ganti dlm tlisannya kang pais ada yg ga singkron. Ada yg pke aku tapi ada jga yg pke saya.

    Mngkin kta gnti itu hrus lbh d perhatikan lagi. Wkwkwk. Krna sinkronisasi itu perlu kan. 😀

    #Komenku
    #Owopmampir
    #Jumatmalam

    1. Alhamdulillah. iyaa Misa.. Ibu kita kusebut “dukun” karena ibu kita doanya manjur. So, kalau mau sukses yaa berbakti sama ibu yah..

      iyaah, harusnya kata ganti nya ga boleh berubah ya Sa? siaap Captain!.. ayeey

  2. Bang Faiiish, kok nulis nama daerah nya ga konsisten sih? Ada yg sesuai eyd ada yang enggak. Jawa Timur yaa bukan jawa timur. Surabaya yaa bukan surabaya 🙂
    Cek lagi yang lain yaaa 🙂

    1. Siaap Happy.. iyaa, haha, saya paling ga teliti sama ginian mah.. baiklah tulisan berikutnya harus lebih teliti lagi..

      anyway thanks ya Happy sudah mau mampir di sini 🙂

  3. Yaah… komentarnya udah diembat OWOPers 😦
    Iya nih, kata gantinya tuh ya Kang.. EYD sama tanda bacanya juga hehehee..
    Kutipan bagusnya kayaknya dibuat alinea baru deh 😀

    Oya, jadi ceritanya Kang Pais salah tujuan gitu? Harusnya ke Malang tapi malah ke Surabaya?

    Itu Mario Tehug siapee??

    1. Ah siap. bagusnya kutipan dibuat alinea baru ya.. baiklah coba saya edit ya Ken..

      mario tehug, temannya mario bros

      Bukan Ken, kalau Malang ndak ada bandara, jadi via Surabaya dulu pesawatnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s