Uncategorized

Penumpang atau Pengemudi?

Tes

Biasanya dalam sebuah perjalanan antar kota, kita menjadi penumpang atau pengemudinya? Jika kita terbiasa menjadi penumpang, maka bayangkan kita tinggal duduk manis melihat pemandangan sekitar, bisa menjawab pesan di handphone, bahkan ketika mengantuk tinggal membaringkan kursi dan boleh tidur.

Namun, apakah pengemudinya boleh tidur juga? Jawabannya tentu tidak. Seorang pengemudi harus selalu waspada, melihat kendaraan dan jalan di depan, melihat spion untuk menghindari mobil, dan mengira-ngira apakah badan mobil muat untuk lewat jalan sempit. Selain itu pengemudi harus tahu peta, jalan kemana mobil dan seluruh penumpangnya dibawa. Ketika tahu jalan yang akan dilewatinya macet, pengemudi harus memutar otak mencari jalan pintas. Bahkan ketika mobil yang dibawanya beresiko mencederai pengemudi lain, maka yang harus bertanggung jawab adalah pengemudinya bukan penumpangnya. Sebab pengemudilah yang memiliki surat ijin mengemudinya!

Lalu pertanyaan berikutnya, dalam hidup kita, mana peran yang kita mainkan? Peran pengemudi yang tahu hidupnya dibawa kemana meski penuh resiko atau nyaman sebagai penumpang yang hidupnya autopilot, mengalir seperti air.

Tuhan telah meminjamkan kendaraan yang dinamakan diri sendiri. Kendaraan itulah yang mengantarkan manusia menuju impian-impiannya. Kendaraan itu baru menunjukkan keperkasaannya di tangan pengemudinya

Rhenald Kasali

Kita telah diberikan potensi yang sangat besar oleh Allah Swt, tangan untuk bekerja, kaki untuk berjalan, otak untuk berpikir, mata untuk melihat. Pilihan untuk memanfaatkan potensi tersebut diserahkan kepada manusia. Manusialah yang memiliki kendali atas dirinya. Ada yang menggunakan potensi tersebut dengan sebaik-baiknya, mengembangkan diri, menciptakan kebermanfaatan untuk lingkungan sekitar. Namun ada yang tidak sadar akan potensi dirinya. Potensi tersebut malah digunakan untuk bersenang-senang dan menghambur-hamburkan uang semata.

Coba tanyakan pada diri kita, sudahkah kita memanfaatkan potensi dengan baik? Jika belum, apakah kita sudah terbayang menjadi apa kita di masa dewasa? Mulailah dari membuat daftar hal yang ingin kita capai tahun ini dan lima tahun kedepan. Menjadi seorang pengusaha sukses, kuliah di luar negeri, menghajikan orang tua, memiliki lembaga sosial rehabilitasi bencana alam, misalnya.

Sebagian orang bilang, “Tidak usah bercita-cita terlalu tinggi, nanti kalau tidak kesampaian jatuhnya sakit” atau mengatakan “Hidup ini mengalir sajalah,” Sejatinya, mereka takut dalam menjalani hidupnya sendiri. Takut gagal, takut apa kata orang nanti, takut frustasi. Berapa orang yang hidupnya diliputi ketakutan seperti ini.

Coba kita simak nasihat Will Smith dalam film After Earth. Film ini menceritakan tentang bumi yang diserang oleh Alien. Ceritanya, alien hanya dapat mengetahui keberadaan manusia dengan cara mencium hormon yang diproduksi saat manusia mengalami ketakutan. Nah, Will Smith dikenal sebagai jendral yang tidak terlihat. Karena tidak memiliki rasa takut sama sekali, keberadaannya tidak terdeteksi oleh Alien manapun sehingga ia dapat dengan bebas menghabisi alien.

Fear is not real. The only place that fear can exist is in our thoughts of the future. It is a product of our imagination, causing us to fear things that do not at present and may not ever exist. That is near insanity. Do not misunderstand me danger is very real but fear is a choice.

Will Smith

Selamat menjalani hidup sebagai pengemudi!

Tulisan ini terinspirasi dengan sosok Rhenald Kasali, seorang professor dari Universitas Indonesia dalam bukunya “Self Driving Menjadi Driver atau Passenger”.

Uncategorized

Melindungi Malaikat

source: fubiz.net
source: fubiz.net

Di pinggir danau, mentari mulai menyelam.

“Jadi kau ingin mendirikan rumah baca untuk mereka? Kenapa mereka?” Aldi menoleh
Rere melihat langit, memegang dagunya dengan telunjuk. “hmm bagiku, membaca adalah jendela dunia. Itulah hal yang dapat melepas pengaruh buruk lingkungannya.”
“Bagaimana bila warga tidak setuju. Sudah kau pikirkan matang-matang Re? ” Aldi menguji.
Rere menghela napas sejenak, “Niat baik, selalu akan ada jalannya, Al.” Rere menoleh, memandang Aldi lekat-lekat “Toh, kita belum mencobanya.”
“Aku takut Ra, aku khawatir impianmu tidak akan berhasil”
“Masih ingat kita pernah nonton film judulnya ‘After Earth’ tahun lalu?”
“iya, lalu kenapa?”
“masih ingat bagaimana alien bisa mencium keberadaan manusia ?”
“hmmm. Kalau tidak salah, dari hormon yang dihasilkan saat manusia mengalami ketakutan?”
“Tepat!”
“iya aku ingat, dibintangi Will Smith, ceritanya dia seorang jendral yang tak mampu terdeteksi alien karena tak memiliki rasa takut”
“Seratus!, masih ingat kata-kata yang dinasihatkan ke anaknya?”
“Ketakukan tidaklah nyata, satu-satunya tempat ketakutan itu berada hanyalah di dalam pikiran kita tentang masa depan. Ketakutan hanyalah produk yang dihasilkan dari imajinasi kita. Takut akan sesuatu yang tidak ada saat ini atau malah nyatanya memang tidak ada, adalah kegilaan. Jangan disalah artikan. Bahaya itu nyata. Namun ketakutan adalah pilihan.” Aldi hafal diluar kepala.
“Wow. kau masih ingat betul rupanya”
“jadi intinya?”
“jangan takut Al. Selama kau masih punya Allah”
“Okay. baiklah, lalu apa rencanamu?”
“hmmm. Minggu depan kau kosong kan? kita sholat dhuhur di Masjid dekat lokalisasi, setelahnya kenalan sama orang-orang yang sholat disana.”
“ide bagus, Re. Baiklah. Sepertinya menarik”

27 Jul 2015
Ditulis di Bandung, dibaca dimana saja.
Fiksi ini ditulis setelah penulis yang berpisah lima tahun akhirnya bertemu lagi dengan anak2 taman baca ex-lokalisasi Dolly, Surabaya.

Uncategorized

Pulang

source: walpapercrafts.com
source: walpapercrafts.com

Sudah lima bulan sejak kepergianku ke tanah rantau. Senja ini, dengan tiket kereta bisnis Jakarta-Solo, kuputuskan untuk pulang. Satu baris kursi kosong, aku memilih duduk dekat jendela. Dengan buku bacaan di tangan. Terselip pembatas di sepertiga bagiannya. Berharap perjalanan ini jauh dari kebosanan.

“Mbak, mbak, bangun mbak”
Aku terbangun tergagap, dengan buku tertangkup di perut, hampir jatuh. Seorang bocah perempuan berpakaian putih merah duduk di sampingku.
“ya? ada yang bisa saya bantu?”
“kau duduk di kursiku” katanya
Aku menggeser diri, agar dia bisa duduk.
“Kau pergi sendirian? Mau pergi kemana dik?” tanyaku membuka obrolan
“iya mbak. Mau menemuimu mbak”
“Hah? Untuk apa dik?” sergahku
Untuk memberi tahumu mbak, bahwa kebaikan itu mudah dilakukan mbak, orang jahatpun bisa melakukannya. Sedangkan menjauhi laranganNya itu yang sulit. Itulah yang membedakan kita di mata Tuhan, mbak. Matanya tajam menyerangku.
“Maksudmu dik? Adik ini siapa?”
“Reva, Aku adalah dirimu di masa lalu. Aku tahu siapa cinta pertamamu dan aku tahu ini hari ulang tahunmu, Apa perlu aku ceritakan kisah memalukanmu di kelas empat?”
“Cukup!” kataku.
“Mbak, masa depanmu suci, tolong perbaiki masa depanmu untukku. Jangan kau sia-siakan umurmu” matanya nanar, memelas di hadapanku.
Ia mengangkat tubuhnya, bangkit dari kursinya, lalu pergi. Meninggalkanku yang menangis tersedu-sedu. Teringat pekerjaan kelamku..

Ditulis di Bandung, dibaca dimana saja
30-09-2015

Uncategorized

Tali Ikat

Coba bayangkan, seekor anjing dengan kekang yang dikalungkan ke lehernya. Talinya sepanjang 1 meter. Lalu bandingkan dengan anjing yang tali kekangnya sepanjang 1 kilometer. Mana anjing yang akan lebih tersiksa?

Kalau kita kira yang lebih tersiksa yang talinya hanya satu meter. Maka cobalah pikirkan, anjing dengan tali kekang satu kilometer ini berlari kencang menjauhi talinya. Saat berlari mencapai kecepatan tinggi, talinya sudah habis dan akhirnya. Yap. Anjing tersebut akan mati tercekik dengan terkaget.

Kita sering melihat di kehidupan ini bahwa begitu banyak manusia yang dzalim yang sepertinya hidupnya baik-baik saja dan bahkan justru kehidupanya tampak Sukses. Namun, diakhirnya, akan sama nasibnya dengan anjing bertali kekang satu kilometer. Agar apa? Ada dua hal: memberikan waktu untuk bertaubat atau Allah menangguhkan siksanya dan menyiapkan siksa yang lebih pedih.

“Maka tatkala mereka melupakan (mengabaikan) peringatan (agama) yang disampaikan kepada mereka, Kami (Allah) bukakan segala pintu untuk mereka, sampai mereka gembira dengan apa yang diberi itu, baru Kami melakukan siksaan kepada mereka dengan sekonyong-konyong, maka saat itu mereka berputus asa (panik).” (QS. Al-An’am VI: 44).

Semoga kita terlindungi dari sifat dzalim dan mendzalimi.

Bandung
23 Juni 2015

Uncategorized

Surat Untuk Ramadhan

Sumber gambar: punyasaya.co

Hai Ramadhan,
Surat kedatanganmu sudah kuterima. Kau bilang, 15 hari lagi akan sampai. Aku sudah janji akan menjemputmu. Sejujurnya aku malu menyambutmu, karena rumahku tidak rapi. Jendelaku kusam penuh debu debu dosa, Sholatku berserak di lantai tidak keruan, dan rumahku gelap karena lampu lantunan Quranku tidak banyak. Agendamu sudah kususun rapi. Tilawah, sedekah dan tarawih masuk dalam daftar. Tapi agenda tinggalah agenda, bila rumahku tak kunjung kurapikan.. itupun bila Tuhan memberiku kesempatan berjumpa denganmu.

Oh ya, titip sampaikan salam kepada Tuhanku:

“ Ya Allah ya Tuhanku
Ini aku hambamu yang dulu..
Yang dosanya selalu
Ibadahnya nanti dulu..”

Salam rinduku.

Bekasi 3 juni

Uncategorized

Mensyukuri Hidup – 26 April 2015

Ceritanya, akhir-akhir ini saya sedang disibukkan dengan aktivitas yang hadir bertubi-tubi. Kesibukan ini bukan kesibukan untuk kepentingan diri sendiri. Namun semua kesibukan yang saya jalani akhir-akhir ini adalah untuk membantu orang lain. Baru selesai satu urusan, urusan yang lain hinggap. Hampir tidak ada waktu bagi saya untuk mengambil jeda.

Mulai dari membantu teman membuat short-video untuk profil dirinya, membantu menengahi seorang ibu dan anaknya yang sedang bertengkar, menjemput teman dari luar negeri yang akan melakukan tes wawancara kerja, melayat rekan kerja di kediamannya di jawa timur, meminjamkan kamar kos untuk teman kos yang ortunya datang, mengantarkan teman yang sakit ke klinik, dan yang terakhir membantu pendirian cabang sebuah lembaga belajar mengaji. Yang semua kejadian itu jika dijabarkan maka saya tidak dapat mengira bahwa semua itu adalah sebuah alur cerita cantik yang telah di skenario sedemikian rupa oleh sang pembuat skenario. Pelajaran syukur nomor satu, “Hidup yang harus disyukuri adalah ketika hidup kita dapat menjadi jalan kebaikan orang lain.”

Misalnya, baru saja kemarin, karena saya terbiasa sabtu-minggu menginap di rumah tante saya di daerah ITB, teman kosku  berniat meminjam kamar kosku untuk menginapkan orang tuanya yang hadir menjenguknya dari Padang. Saya pun berkemas, menyiapkan segala gear ku untuk menginap di rumah tante saya. Namun ketika di depan pintu rumah tante, saya tidak mendapati seseorangpun ada di rumah. Aah, mereka sedang liburan ke pantai!. Terbesit di pikiranku untuk menginap ke tempat temanku, Azzam. Amboi! diapun ternyata sedang menjalani seminar di Jakarta. Di tengah kebingunganku untuk bermalam, saya pun melaksanakan sholat isya, karena kebetulan waktu itu sedang adzan isya.  Setelah sholat tiba-tiba saya teringat untuk salah satu teman dosen yang ngontrak di daerah Tubagus Ismail. Alhamdulillah, setelah saya konfirmasi via telpon ternyata dia sedang ada di tempat dan nitip dibawakan makan malam.  Setibanya di kontrakan, mata saya menangkap tubuhnya yang lemas di lantai, mengenakan jaket dengan tudung, memakai kaos kaki dan sarung tangan. Rupanya dia sedang demam.  melihat kejadian tersebut, saya pergi ke swalayan terdekat membelikan Paracetamol sebagai obat penurun panas. Esok paginya, saya antarkan teman saya ke poliklinik terdekat. Dokter bilang, dia cukup kelelahan sehingga daya tahan tubuhnya menurun. Setelah meminum obat dan istirahat, alhamdulillah, tubuhnya berangsur sembuh. Pagi itu pula, saya harus menjemput perwakilan dari lembaga mengaji di stasiun kota Bandung. Rencananya mereka akan membuat cabang di Bandung. Kebetulannya, mereka akan bertemu dengan BAZNAS yang berlokasi di Tubagus Ismail. Setelah meminta izin agar mereka dapat di inapkan ke kontrakan teman saya yang sedang sakit tadi, ternyata teman saya menerimanya dengan senang hati. Dari runtutan peristiwa ini, sungguh saya termenung, bahwa skenario dari Allah sungguh indah. Satu peristiwa ke peristiwa lain seakan sambung menyambung seperti puzzle yang nanti akan dirangkai menjadi sebuah gambar. Pelajaran syukur nomor dua, “Allah adalah sang maha pembuat skenario terindah. Bila kita merasa tidak suka terhadap kehendaknya, bisa jadi itu baru sepotong peristiwa, tunggulah gambar utuhnya. Yang pasti,  Dia tidak pernah sekalipun punya rencana buruk kepada kita.”

Mundur lagi ke dua pekan sebelumnya, seorang ibu dari temanku menelponku karena sedang konflik dengan anaknya, sehingga anaknya (teman saya) tidak mau menyapa ibunya. Saya hanya bisa mendengarkan cerita sang ibu yang sabar dan menguatkan ibu tersebut. Di saat itu, saya mencari-cari momen untuk berbicara empat mata dengan teman saya, namun sulit sekali, dia menghindar. Di tengah situasi menjadi penengah tersebut, saya berkonsultasi dengan ibu saya. Ibu saya pun mendengarkan cerita tersebut dengan sabar dan memberikan beberapa masukan.

Mundur lagi ke satu pekan sebelumnya, berita duka hadir dari rekan dosen saya yang ayahnya baru saja meninggal di Malang. Atasan saya meminta saya untuk menjadi perwakilan prodi untuk menyampaikan bela sungkawa.

“Berangkat besok yah mas Faishal, cari tiket pesawat aja ke Malangnya”,

“Baik bu, saya coba carikan tiketnya”

Aah, tiket pesawat sangat susah dibook ketika penerbangan sudah H-1. Habis, habis dan habis. Akhirnya saya harus berangkat dari Cengkareng menuju Surabaya pukul 4 pagi. Kembali ke Bandungnya, saya harus PP sehari, tidak menginap karena di kantor akan mengadakan acara Nasional dan saya kebagian menjadi panitia publikasi. Maka saya pesan tiket kembalinya siang itu juga. Karena terbiasa menggunakan maskapai Ai*Asi* saya pesan penerbangan pulang pada hari yang sama pukul 12.55. Setelah membayar tiket, saya baru sadarr.. Aah. Saya salah beli tiket pulang!. Saya salah estimasi! perjalanan dari Surabaya ke Malang biasa ditempuh 2.5 jam. Saya memberi kabar kepada ibu bahwa saya akan pulang sehari, tapi saya tidak yakin bisa bertemu dengan bapak ibu saya ketika di surabaya. Namun setelah konsultasi ke ibu saya, ibu saya dengan senang hati yang akan mengantarkan ke Malang. “Biar cepet nyampe, biar keburu pesawatnya Le..” begitu kata ibu saya.

Minggu jam 23.00 : berangkat dari kos

Senin jam 00.00 : berangkat ke Cengkareng dengan menggunakan bus.

Senin jam 03.00 : tiba di Cengkareng , bobok ganteng di kursi bandara.

Senin jam 04.00 : Boarding, Berangkat dari Cengkareng

Senin jam 05.30 : tiba di Juanda, Surabaya.

Senin jam 06.00 : Setelah sholat subuh di Bandara, ibu saya dengan bapak saya sudah standby menjemput saya.

Senin jam 8.40 : Bapak saya bisa ngebut, kami sampai di Malang, Setelah menyampaikan bela sungkawa dan berikutnya,.

Senin jam 09.10 : Kami pulang lagi ke surabaya (haha, cuma setengah jam di Malang)

Senin jam 11.35 : (Meski awalnya pesimis bisa mengejar pesawat)Alhamdulillah sudah kembali lagi di bandara Juanda..

Senin jam 14.00 : Sudah tiba lagi di bandara Husein Sastra Negara Bandung.

Ajaib kan? saya mencatat ini adalah perjalanan terjauh dan tercepat yang pernah saya alami. dari sini saya termenung, ibu saya selalu mendukung saya, bahkan di saat saya telah salah mengambil keputusan, ibu dan bapak saya bela-belain mengantar saya. Pelajaran syukur nomer tiga, “Syukurilah Ibumu. Selagi ibu masih ada, ibu adalah “dukun” terbaik. Maka mintalah support dari Ibumu.”

Di akhir cerita ini, izinkan saya mengutip quote dari Kakak saya, Kakak Mario Tehug..

“Jadilah sebab bagi kebahagiaan orang lain, dan kebahagiaan anda menjadi urusan Tuhan langsung”

Sekian “tulisan ini dibuat dalam rangka tantangan ‘Blessed Days Blessed Life’”

Bandung 27 April 2015

Uncategorized

Maryam, Wanita Perancis yang Rindukan Islam

img_4796-e1489550513114.jpg

Ceritanya akhir-akhir ini saya sering berkorespondensi dengan sahabat saya seorang akhwat perancis. meski belum berhijab, saya tetap menyebutnya akhwat dan saya selalu mendoakannya supaya segera berhijab.

Margo namanya, pertemuan dengan dia pertama kali adalah selepas saya sholat ashar di masjid kampus sewaktu kuliah di Bangkok. gara-garanya dia lihat saya dan teman saya memakai peci. Mahasiswi sandwich program ini mengaku setelah sekian lama mempelajari dan mencoba berbagai agama, ia tertarik dengan agama budha dan Islam.

Saat berkenalan ba bi bu, dia sangat gembira dengan kami yang bisa sedikit bahasa perancis. selepasnya ia meminta kami dipertemukan dengan orang yang bisa mengajarinya agama islam. Saya antarkan dia ke rumah Imam masjid kami yang berkebangsaan Pakistan.

Disana saya mendengar diskusi yang seru dan panjang mengenai Islam, betapa terkejutnya saya ternyata Margo memiliki quran terjemah dalam bahasa perancis.

Beberapa hari setelah pertemuan itu pengurus masjid kami mengadakan kajian dengan mendatangkan ustadz dari Malaysia, syeikh hussein Yee. Margo pun saya ajak untuk datang di acara tersebut. Dia pun menyambut baik tawaran tersebut. Dalam forum tersebut Margo menanyakan pertanyaan mengenai apa beda budha dan islam. SubhanAllah, kebetulan sekali syeikh Hussein Yee adalah muallaf dari agama Budha. Alhamdulillah jawaban syeikh Huseein Yee cukup membuat Margo puas.

Selang beberapa hari setelah acara tersebut, Margo mengajak kami (mahasiswa Indonesia) makan malam. Kami terkejut ketika dia bercerita sudah bersyahadat dengan dibimbing oleh istri sang imam masjid. SubhanAllah, Alhamdulillah. dia juga merubah namanya menjadi Maryam. kamipun menyusun rencana untuk membuat sedikit kejutan untuknya. Kami urunan untuk membeli satu set mukenah, quran, iqro serta tasbih. Betapa senangnya wajahnya memerah ketika kami memberikan kejutan itu.

Kejadian 2 tahun yang lalu, sungguh pengalaman yang tidak terlupakan, karena dia sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri. Saat ini dia kembali ke negeri nya untuk bekerja. Dia seringkali bercerita mengenai bertambah nya jumlah muslim di negaranya, dan dia bercerita mengenai begitu besar perlawanan non muslim prancis terhadap islam. misalnya, terakhir ia bercerita mengenai sikapnya yang ingin menikahi ikhwan asal Morocco, Yusuf namanya. alhasil ia dicerca oleh rekan sebangsanya sebagai penghianat negara karena tidak menikahi sesama orang perancis.

Semoga tetap istiqomah wahai Maryam..

Bang